Am I A Work Martyr?

Am I A Work Martyr?


Do you know what work martyr is?

The first time I heard about the term 'work martyr' is from one of my editor and mentor from publisher (Penerbit Haru), Lia Indra. She posts an idea in her Instagram account about it. The caption really hits me because that term connects to my daily life as a worker.

Work martyr is another term for workaholic. It's a new term for me and I'm excited to understand more about it. (Blame my curiosity! :D) Actually, work martyr is more than workaholic. If you enjoy working, it's okay to be a workaholic. But, when it makes you stressed out or ill, that's work martyr.

I dunno if being a work martyr is bad or not. Perhaps, it depends on the person. But I don't want to be a work martyr. If it is for my own company, I will be  a work martyr. If it's not, I don't want to.

Here are a few signs to watch out for:

1. You reply to emails as you see them, no matter the time of day or urgency.

2. If you receive feedback that is less than glowing, it severely alters your mood for the rest of the day.

3. You eat lunch at your desk every day.

4. You go into work even when you're sick.

5. You think you're the glue that holds everything together for your team.

6. You complain to anyone who will listen about your long hours and crushing workload.

7. You silently judge others when they leave work early or take off for family reasons.

8. You can't remember the last time you spent an entire weekend or holiday away from your computer or phone. And when you have holidays or day off, you will feel guilty.

9. You have to do everything yourself because you don't trust others on your team to do the job up to your standards.

10. At social events you don't have much else to talk about besides work, because it's your number one interest.

I've got some signs. It makes me want to break free because it is too overwhelmed. But it's hard.

I really want to enjoy my time outside of working hours. You know, doing my hobbies or spending time with beloved ones without thinking about work. That's why I always turn off the WhatsApp notifications after work and during weekends. It is so peaceful...

Do you also think that you become a work martyr? How do you manage your mind and soul in order to not being a work martyr?
Mau Resign? Siapkan Hal Ini Dulu

Mau Resign? Siapkan Hal Ini Dulu


Banyak film yang meromantisasi resign, yaitu ketika tokoh utama memutuskan untuk berhenti bekerja, lalu berjalan keluar dari gedung tempatnya bekerja. Seketika itu juga, ia menghirup kebebasan. Hidupnya pun lantas menjadi lebih indah. Happy ending.

Oh, indahnya hidup...

Namun, kenyataan justru berbanding terbalik. Memang, satu atau dua hari setelah resign, rasanya bahagia. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, semua berubah. Setidaknya jika tidak ada penghasilan, satu bulan setelah resign bisa dipastikan cicilan dan tagihan mulai mengantri. Belum lagi kebutuhan harian harus dipenuhi. Bagi kaum hawa yang single, kebutuhan untuk merawat diri pun adalah hal wajib. Ditambah lagi, pemenuhan hasrat untuk hobi dan gaya hidup meningkat. Contohnya, jika ada film seru yang sedang diputar di bioskop. Tidak boleh deh sampai terlewat biar ada obrolan sama teman-teman. Ngobrolnya pun akan lebih keren kalau di cafe atau di warung kopi. Tapi, bagaimana itu bisa terjadi kalau uang yang kita punya setelah resign pas-pasan—hanya mengandalkan uang hasil pesangon resign? Akhirnya, penyesalan pun akan datang.

Resign adalah hal yang perlu dirancang dan direncanakan dengan baik. Jika keputusan resign dilakukan tergesa-gesa tanpa perencanaan yang matang, kejadian yang tadi saya ceritakan lah yang akan terjadi. Apalagi jika belum mendapat kerjaan pengganti. Ujung-ujungnya malah sengsara. Berbanding terbalik dengan doktrin dari film-film yang kita tonton.

Keputusan resign ini sebetulnya sudah ada pada mindset saya sejak di bangku SMA. Hobi saya membaca. Maka, passion saya pun ada di bidang literature. Saya berencana untuk menjadi penulis novel, editor, dan translator—sambil berbisnis dan mengelola toko pakaian. Pekerjaan saya yang sekarang jauh dari bidang saya. Saya pun berpikir, jika saya terus berada di tempat itu, saya akan terjebak dalam rat race—bangun tidur, berangkat kerja, mendapat gaji, bayar cicilan, belanja ini itu, tunggu gajian berikutnya. Begitu saja selama satu tahun, dua tahun, dan sampai sekarang masih begini-begini saja. Hal ini mirip seperti apa yang dijelaskan Robert T Kiyosaki mengenai konsep Cashflow Quadran.



Konsep ini membagi masyarakat menjadi empat kelompok. Empat kuadran. Begitulah istilah dalam buku Roberti T Kiyosaki. Berbeda kuadran, berbeda pula cara mereka mendapatkan uang. Kuadran pertama adalah pegawai (employee). Seperti saya sekarang. Bekerja pada orang lain atau perusahaan. Kuadran Kedua adalah para self employee. Mereka bekerja untuk dirinya sendiri dengan membuka usaha atau memiliki perusahaan sendiri. Kuadran ketiga adalah pemilik perusahaan. Mereka memiliki perusahaan, namun yang menjalankannya adalah orang lain yang ia rekrut. Kuadran keempat adalah investor—pemegang saham. Mereka tidak bekerja untuk uang, namun uanglah yang bekerja untuk mereka. Bisa dikatakan, inilah sumber passive income.

Dari keempat kuadran tersebut, saya mempertimbangkan akan ada di kuadran mana saya. Kuadran kedua, tidak mungkin. Karena saya tidak punya bakat berjualan barang. Kuadran tiga, apalagi. Saya bukan anak pejabat atau pengusaha. Berpikir memiliki perusahaan sendiri sepertinya masih jauh dan agak sulit diraih karena tidak ada modal besar. Kuadran empat, bisa saja. Tapi, saya tidak punya ilmunya. Ketika saya SMA dulu, belum ada seminar atau Youtube channel yang membahas finansial. Belum lagi ada mindset bahwa menjadi investor itu harus punya uang banyak untuk menanamkan saham. Jadi, satu-satunya pilihan saya adalah menjadi penghuni kuadran satu alias karyawan.

Bertahun-tahun saya bekerja pada perusahaan orang lain yang tidak sesuai passion saya. Mark Twain, salah satu penulis favorit saya yang terkenal dengan bukunya The Adventures of Tom Sawyer, mengatakan, “Find a job you enjoy doing, and you will never have to work a day in your life.” Ini betul sekali! Ketertarikan saya pada dunia kepenulisan dan literatur menjadi bahan bakar saya untuk  resign. Namun, saya perlu berhati-hati dalam hal ini. Ini harus direncanakan dengan matang dan dengan strategi. Di sinilah saya mengenal aplikasi Finansialku—sebuah aplikasi yang berfungsi mengelola keuangan, investasi, dan merencakan keuangan individu atau keluarga. Inilah cara mengatur keuangan cara saya dengan aplikasi Finansialku.


Dalam buku Make A Plan And Get Your Financial Dreams Come True karya Melvin Mumpuni—founder Finansialku—dijelaskan bahwa “mimpi yang tidak ditulis/diucapkan, hanyalah sebuah khayalan.” Kata-kata itu membuat saya tertegun. Karena itu, saya bertekad untuk mempraktikkan apa yang disarankan dalam buku tersebut.




Langkah pertama yang saya lakukan adalah mulai merapikan cash flow. Saya harus mencatat pemasukan dan pengeluaran setiap harinya guna melihat kemana saja uang saya pergi. Biasanya, saya memakai catatan tertulis di sebuah buku notes. Namun, ini kurang efektif karena buku catatan saya sering tertinggal di rumah, atau lupa mencatat pengeluaran. Solusinya adalah dengan menggunakan aplikasi Finansialku. Aplikasi ini praktis dan dapat diunduh di Play Store (untuk Android) dan www.aplikasi.finansialku.com (untuk iOS, karena aplikasi untuk iOS masih on development). Untuk bulan pertama, kita bisa menggunakannya secara gratis. Selanjutnya, dikenakan biaya. Hanya dengan 35.000/bulan atau 350.000/tahun, kalian bisa mencatat keuangan, investasi, dan bisa bebas konsultasi dengan para perencana keuangan Finansialku.


Mencatat keuangan ini saya lakukan setiap hari di tools 'Catatan Keuangan'. Namun, sebelum mencatat, saya harus mengisi 'Anggaran' terlebih dahulu, supaya tahu apa saja yang perlu dianggarkan di bulan ini. Tools 'Catatan Keuangan' diinput harian. Kita bisa memsukkan pengeluaran kita di tools tersebut dengan memencet tanda plus di bagian kanan bawah.

Saya pun menjadi lebih hemat dan bisa menabung lebih banyak. Jika ingin membeli sesuatu, saya akan selalu berpikir apakah ini kebutuhan atau keinginan. Saya mulai mengurangi jajan di luar, lebih memilih bekal atau memasak sendiri di rumah. Kalau ingin apa-apa, pinginnya bayar cash. Pantang pakai kartu kredit. Lebih kece bayar cash kan ketimbang ngutang pakai kartu kredit. Mungkin, ini efek psikologis dari mencatat keuangan.

Langkah kedua, melunasi hutang konsumtif. Hutang konsumtif memang terkadang membuat napas agak sesak. Cicilan mobil, kartu kredit, dsb. Apalagi jika kita mengeluarkan uang untuk membayar hutang yang jumlahnya 50% dari pendapatan kita. Ya, memang hutang konsumtif sifatnya menggerus pendapatan kita. Beda dengan hutang produktif yang bisa memberikan penghasilan. Setelah membaca banyak artikel di finansialku.com, saya pun membatasi hutang/cicilan maksimal 30% dari pendapatan. Tidak boleh dari itu. Dan saya berencana untuk segera melunasi hutang konsumtif secepat mungkin. Tentunya, dengan menggunakan aplikasi Finansialku dong.

Langkah ketiga, menyiapkan dana darurat. Di Finansialku, ada sebuah framework bernama piramida perencanaan keuangan.


Piramida ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu keamanan keuangan, kenyamanan keuangan, dan distribusi kekayaan. Inilah salah satu hal yang harus dipersiapkan sebelum memutuskan untuk resign.
Keamanan keuangan berarti kita dapat memenuhi keuangan jangka pendek (1-12 bulan). Dalam piramida, disimbolkan dengan dompet dan payung. Dompet berarti kita sudah memiliki dana cadangan/talangan yang jumlah idealnya 6-12 bulan pengeluaran kita (tergantung status pernikahan). Payung berarti kita memiliki asuransi kesehatan. Inilah yang harus kita persiapkan ketika berencana untuk resign.

Langkah selanjutnya adalah investasi. Warren Buffet adalah role model untuk saya. Saya tidak berbakat berbisnis/berjualan. Untungnya saya punya pasangan yang pintar berbisnis dan berjualan. Jadi, saya fokus untuk berinvestasi di reksadana. Saya sudah memiliki reksadana. Tentunya, kalian pun bisa dengan mudah memiliki Reksadana hanya dengan mengunduh aplikasi Finansialku.

Saat ini saya memang masih bekerja di perusahaan yang sama dan belum resign. Setelah mendapat pencerahan dari Finansialku, saya pun menjadi tidak tergesa-gesa untuk resign. Namun, saya tetap berniat untuk resign. Resign yang terencana. Selama sepuluh tahun ke depan, saya akan fokus membangun karir, memenuhi dana darurat, melunasi cicilan, dan berinvestasi, dengan tidak melupakan passion saya di dunia kepenulisan dan mimpi saya dalam meraih kebebasan finansial. Memang jalannya masih panjang, namun pengalaman yang akan saya dapat akan membawa saya pada kebebasan—seperti yang didapatkan tokoh-tokoh dalam film yang meromantisasi resign. Sepuluh tahun lagi, saya akan pensiun dini dan berjalan ke luar gedung perkantoran sambil berteriak, “Saya bebas!”
Visiting The Wolf's Lair

Visiting The Wolf's Lair

The biggest book sale in the world, Big Bad Wolf, made its way back once again this March in Indonesia! This time, it was held in Indonesian Convention Exhibition (ICE), Tangerang. For me, it was my fourth time to be in the event since 2016. Never missed one. This year, I went there again and got some amazing books to feed my needs to read.

Although the books that I bought are not as much as other bibliophiles, I am very grateful. It is because the books that I bought are all exciting. I checked the rating and the comments on Goodreads to make sure that I didn't waste my money for something that doesn't spark joy. Yes, I did the selection based on KonMari method. I don't want to be a book hoarder. Keeping books without reading it and let them lay there somewhere in the bookshelf makes me guilty. Also, Islam taught me not to collect things that I don't use etc, while there are many people who need it more than me. So, I make sure that I read all the books I bought.

And here are the books:



1. Exit, Pursued By A Bear by E.K. Johnston
2. Tales of Falling and Flying by Ben Loory
3. Forgive Me, Leonard Peacock by Matthew Quick
4. My Life with the Liars by Caela Carter
5. The Museum of Heartbreak by Meg Leder
6. Immaculate by Katelyn Dateweiler
7. The Last To Let Go by Amber Smith
8. The Darkest Corners by Kara Thomas

Mostly, the books are on my wishlist. I also have read some in the form of e-books. But I really like physical books than e-books. So I collected those amazing books.

Moreover, there are news that spreading on the social media that Big Bad Wolf book sale will be held in several cities in Indonesia (Usually only Tangerang and Surabaya). Bandung is on the list! It is scheduled on June 2019. But I was afraid if I have a high expectation and it turns out to be a hoax. But it is not! It has been confirmed on official Instagram @bbwbooks_id

Can't wait to visit the wolf's lair again! Wolf's lair = my playground. I plan to visit it everyday. So, let's meet there to share anything about books. :)

Did you go to Big Bad Wolf book sale this March? What did you buy? I really want to know it. Please share, because sharing is caring.

Pinjam Buku di Bookabuku.com, Yuk!

Pinjam Buku di Bookabuku.com, Yuk!

Sekarang sudah akhir bulan Oktober. Sebentar lagi, akhir tahun. Di negara empat musim, saat ini sedang musim gugur. Dan sebentar lagi musim dingin datang. Kalau di Indonesia, sekarang sudah masuk musim hujan. Bulan-bulan Oktober, November, dan Desember adalah bulan favorit saya karena itulah saatnya bergelung di sofa atau tempat tidur sambil membaca buku dengan ditemani secangkir teh, kopi, atau susu hangat.


Tapi, semua itu tak lengkap jika buku yang kita baca tidak begitu bisa membuat kita semangat untuk membuka lembaran demi lembaran. Atau jika semua buku di rak sudah habis 'dilahap' dan kita kebingungan membaca buku apa selanjutnya.

Kali ini, kalian tak usah khawatir. Setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Dan setiap masalah, pasti ada solusinya. Jika kalian mengalami hal di atas, cobalah untuk meminjam buku di Bookabuku! Apa itu Bookabuku?

Bookabuku adalah platform pinjam-meminjam buku online pertama di Indonesia. Konsep dari Bookabuku memudahkan pengguna untuk meminjam buku dengan pilihan beragam dari sesama pengguna. Bookabuku ini lahir karena rendahnya kultur literasi di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini menempatkan Indonesia pada peringkat dua terbawah. Menurut data UNESCO Secara keseluruhan hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang membaca. Permasalahan tersebut muncul dikarenakan harga buku berkualitas yang relatif mahal dan akses yang sulit. Apalagi, buku-buku impor. Untuk mengatasi kendala tersebut, Bookabuku hadir memberikan solusi dengan menciptakan platform pinjam-meminjam buku fisik secara online pertama di Indonesia.


Awalnya, pinjam meminjam di Bookabuku hanya untuk mereka yang tinggal di wilayah Jabodetabek saja. Namun sekarang, sudah bisa ke seluruh Indonesia! Area jangkauan utama 24 kota yang tersebar di 9 provinsi (Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, D.I.Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Bali). Bagi pelanggan yang lokasinya di luar jangkauan bookabuku.com, bisa mengirimkan buku melalui jasa pengiriman yang ada di daerah tersebut dan menerima penggantian ongkos kirim dari bookabuku.com maksimal sebesar Rp. 10.000,-.

Cara meminjamnya pun cukup mudah. Buku yang kamu pinjam akan dikirim ke alamatmu. GRATIS! Dan jika sudah selesai membacanya, kamu cukup tunggu kurir rekanan mengetuk pintu rumahmu untuk menjemput bukunya. Dan kamu tidak udah membayar apa-apa lagi. Kamu cukup bergelung santai saja di rumah. Hehe...


Untuk bisa meminjam buku di Bookabuku, kamu harus menjadi member terlebih dahulu dengan cara membuat akun di website Bookabuku.com. Dengan membayar seharga Rp. 69.000 sebulan, kamu bisa meminjam buku sepuasnya. Tidak usah membayar lagi. Dengan catatan, maksimal dua buku di tangan. Kamu bisa menukar buku tersebut dengan buku lain jika kamu sudah selesai membacanya. Menarik bukan?

Kalau tertarik untuk meminjam buku di Bookabuku, kalian bisa lho dapat diskon sebesar 20% dengan memakai kode referral 'mpur3969'. Dengan memakai kode referral ini ketika kamu mendaftar, harga Rp. 69.000 per bulan akan dipotong 20%. Hemat kan?

Pengalaman saya meminjam buku di Bookabuku.com sangat memuaskan! Sejak minggu lalu, saya sudah meminjam tiga buku. Dua buku untuk peminjaman pertama, lalu tukar satu buku dan ganti dengan buku lain karena sudah beres dibaca. Dengan menjadi member di Bookabuku.com, saya menjadi lebih sering membaca. Mungkin karena bisa pinjam sepuasnya dengan harga Rp. 69.000, saya tidak mau rugi. Saya harus memanfaatkan kesempatan ini dengan meminjam banyak buku dalam satu bulan. Hehe...

Oya, selain bisa meminjam, kamu juga bisa meminjamkan koleksi buku kamu. Daripada hanya teronggok di rak-mu yang berdebu itu, lebih baik bukunya bisa dimanfaatkan. Tentu saja, ada imbalannya. Kalau ada yang meminjam bukumu, kamu akan dapat imbalan Rp. 5000/buku untuk buku bahasa Indonesia, dan Rp.10.000/buku untuk buku impor. Asyik kan?

Kalau kamu, sudah jadi member Bookabuku? Kalau ya, bagi pengalaman kamu di kolom komentar ya. Kalau belum, ayo, segera meluncur ke bookabuku.com...

Of Friendship and Adulthood

Of Friendship and Adulthood


Recently, I'm head over heels with a musical movie titled Mamma Mia! In the movie, the friendship of the mother and her two friends lasts forever, even after one of the characters is dead. Years ago, I  wished I would find a friendship like that. I think it'd be nice having true friendship. I made a friendship with a lot of groups in different places, such as campus, communities, etc. However, either my expectation is too high or my mind has been romanticized by fiction, I feel a bit upset as the wish doesn't seems to come true. As I grow older, I lose friends one by one like a nature selection. We don't contact each other in a long time. Even if we do, our conversation feels flat. Then a question pops in my head:

Do we lose friends as we grow up?

Soon after your mid-20s, your social circle starts to shrink. It is a fact according to a recent study by scientists from Aalto University, Finland and the University of Oxford, England. So, it is a common fact that losing friends as we grow older is a part of the life cycle. However, accepting the fact that the bond between us and our friends are not the same anymore is quite sad. You will feel that it is very hard to schedule a meet up, very hard to gather just you and your friends (not with the significant others or children), very hard to call or text them just to say hi without making conversation flat. I think there are reasons why the friendship turns sour...

As we get older, we will have a lot of priorities, just like works, communities, family matters, etc etc. Every people will have different priorities. We and our friends will have different schedule, different cities, and different things to take care of. Sometimes, our mindset changes as we go through the process. Our thoughts will never be the same as before. So, it makes us searching for new friends who have the same frequency with us.

It's a sick sad world, I know. Just like what a poem titled AROUND THE CORNER by Charles H Towne says:



I suggest you to read the whole poem here. What depicts in this poem is true. It's about how the friendship disappears. Because life is a swift and terrible race, we sometimes forget to connect with our longtime friends. We're too busy to ask what they're doing or too busy to answer their calls/texts. As we get older, we will see friendships come and go and become more aware of the value of time. Despite the meaning of the poem, I love how the words creates such a wonderful sound devices called rhyme. It has a-a-b-b rhyme. The use of the sound devices makes the imagery in your mind. It gives the readers a melancholic feeling. Haha.. Sorry, I'll not go any further about the literature lesson. :D

Let's go back to the topic.


It's kinda sad to know that our lives and our longtime friends' lives turns flat anyway... I don't want to lose them though... In the end, what we need is not the large amount of friends that we have, but the quality of the friendship although we only just have several friends.
Copyright © 2014 A Walk To Wonderland , Blogger