Gaya Hidup Ini Membuat Jarak Generasi Milenial dengan Koperasi Agak Jauh

Gaya Hidup Ini Membuat Jarak Generasi Milenial dengan Koperasi Agak Jauh


Begitu mendengar kata ‘koperasi’, kamu yang termasuk generasi milenial pasti beranggapan:
“Jadul banget!”
“Koperasi? Apaan tuh?”
“Emang koperasi masih ada ya zaman sekarang?”
Respon seperti itu bisa jadi terlontar, apalagi kita hidup di zaman milenial yang sangat identik dengan Industri 4.0. Rasanya, koperasi hanya ada di dalam materi pelajaran Ekonomi saja. Mental inilah yang menjadikan generasi milenial kurang memiliki financial literacy atau kecerdasan keuangan.

Di bangku sekolah, hanya teori umum yang diperkenalkan pada para siswa. Namun, tidak dipelajari hal-hal untuk bekal hidup di masa depan, seperti investasi, asuransi, dana darurat, penghasilan pasif, dsb. Padahal, kecerdasan keuangan sama pentingnya dengan kemampuan dasar lainnya untuk bertahan hidup—seperti yang dikemukakan John W. Rogers, Jr, investor terkemuka di Amerika Serikat. Edukasi finansial yang tidak diberikan sejak kecil bisa mempengaruhi gaya hidup. Nah, gaya hidup apa saja sih yang membuat milenial susah untuk berinvestasi?

#1 Gaya Hidup YOLO
Istilah YOLO muncul beberapa tahun terakhir ini ketika media sosial sudah menjamur. Kepanjangan dari You Only Live Once, YOLO menjadi motto sebagian besar kaum milenial. Akibatnya, generasi kelahiran 80-an dan 90-an ini sangat mementingkan kepuasan batin. Hidup hanya sekali dan sebaiknya bersenang-senang. 

Akibatnya, mereka lebih mementingkan hidup nyaman saat ini juga. Siapa coba di antara kalian yang langsung membeli ini-itu atau nongkrong di kedai kopi ternama begitu gajian datang? Belum lagi untuk update di media sosial demi menambah likes dan followers. Alih-alih memikirkan hari esok, generasi ini lebih mementingkan eksistensi saat ini.



Saya sebagai generasi milenial, banyak sekali menemukan kondisi seperti di atas. Oh ya, buat yang belum tahu apa itu generasi milenial, mereka ini adalah orang-orang yang lahir di antara tahun 198l-1996. Seringkali, banyak orang terkecoh dengan penyebutan istilah ini. Generasi milenial itu anak zaman now. Padahal, tidak seperti itu, lho.

#2 Terkenal di Medsos = Sukses
Munculnya media sosial membuat generasi milenial agak bias dalam membedakan mana dunia nyata dan dunia maya. Tak heran jika muncul anggapan bahwa terkenal di media sosial, artinya bahagia dan sukses. Padahal apa yang dilihat di media sosial belum tentu mencerminkan kehidupan aslinya.

Banyak orang yang berlomba-lomba supaya bisa terkenal. Yang bahaya, terkenal gara-gara materi.

Teman-teman saya banyak yang mengutang sana-sini hanya untuk keperluan update media sosial. Bahkan, ada yang merogoh kocek berjuta-juta untuk pergi ke kuar negeri. Belum lagi, ketika mendapat bonus dari kantor langsung belanja ini-itu yang memuaskan nafsu sesaai seperti beli baju yang (ternyata) tidak dia pakai juga, atau nongkrong di cafe dan memamerkan fotonya di media sosial supaya dianggap 'orang kaya', padahal hutang menumpuk.

Itu dia dua gaya hidup yang membentuk karakter generasi milenial. Dengan berbekal kecerdasan keuangan, seseorang bisa mengelola uang yang didapat untuk membiayai kehidupan di usia non-produktif. Namun, banyak orang yang tidak mengetahui caranya. Padahal, caranya ada di depan mata. Tidak perlu jauh-jauh ke negeri Paman Sam. Cukup liriklah koperasi.

Koperasi bisa menjadi salah satu jalan untuk melek finansial. Salah satu program koperasi memberikan kesempatan untuk siapapun yang mau berinvestasi dengan menanamkan modalnya. Dalam periode tertentu, hasilnya akan dibagikan pada penanam modal. Sistemnya mirip bagi hasil. Tapi masalahnya, zaman sekarang generasi milenial tidak akrab dengan koperasi. Justru, akrabnya dengan smartphone.

Eits, tunggu dulu! Koperasi zaman now mulai akrab dengan generasi milenial lho. Pasalnya, beberapa waktu belakangan ini, sebuah platform digital keuangan koperasi pertama di Indonesia diluncurkan. Namanya, Koperasi Aja atau disingkat menjadi KOP-AJA. KOP-AJA merupakan koperasi versi zaman now yang ramah untuk generasi milenial. Disesuaikan dengan karakter milenial yang canggih, koperasi mulai merambah dunia IT. 



Lewat KOP-AJA, para generasi milenial bisa mengaksesnya lewat ponsel canggih. Saking mudahnya, fiturnya pun memudahkan untuk berinvestasi. Dengan mengusung slogan 'investasi pintar mulai 100 ribu', KOP-AJA membantu generasi milenial untuk memenuhi kebutuhan finansialnya, baik di masa kini maupun di masa depan. Jangan khawatir, KOP-AJA ini diawasi oleh Kementrian Koperasi dan UMKM sehingga jauh dari kata investasi bodong.

Namun, salah satu penghalang antara koperasi dan generasi milenial yaitu kurangnya informasi mengenai pentingnya berinvestasi bagi para milenial. 

Tak cukup jika hanya mengandalkan platform online saja. Bisa-bisa, generasi milenial salah mendapatkan pedoman. Akan lebih baik kan jika koperasi mengadakan seminar atau pelatihan tentang pentingnya berinvestasi dan mengelola keuangan ke sekolah atau kantor-kantor sehingga koperasi dan produknya menjadi semakin dikenal. Generasi milenial senang belajar hal-hal baru, lho.
[Blog Tour] Something Like Gravity by Amber Smith

[Blog Tour] Something Like Gravity by Amber Smith


"Maybe we don't always have the right thing to say, but we're here. You don't need to keep everything inside all the time and deal with it all by yourself."
Once again, Amber Smith surprises us with the thought-provoking issue in her third book, Something Like Gravity. Published by Margaret K. McElderry Books on June 18th this year, Something Like Gravity depicts about Chris and Maia's journey in accepting the past and self-discovery.

The dual narration will give the readers a different perspectives. Chris is a boy moved to Carson, NC at least for the summer. He still recalls a serious assault the year before. His mother still minds that Chris is a transgender. Maia deals with the lost of family member. Her sister died because of heart attack. Chris and Maia are neighbors, at least for the summer.

Then, a near-fatal accident brings them together. Since their first meeting, they just can't seem to stay away from each other. In the contrary, they also keep their own secrets from each other. Maia with her grieving the loss of her older sister and trying to find her place in the world without her, while Chris has come out as transgender.
"Are you okay?" I asked her, and I could barely stand how much I wanted to take her hand right now,how much I wished I could put my arms around her.
"No," she answered. "But I think maybe I'm starting to be."
The problem is that they both are not honest to each other. At first, Chris doesn't know Maia's past. And, Maia doesn't know that Chris is a transgender. What will it be if they know the secrets they keep?
Maybe every secret needs to be told on its own terms.

Dealing with an issue like transgender would be complicated. Some people still can't accept it. Transphobia, they say. But reading this book makes you think that they are also human who have feeling. It is described clearly as it is narrated in an alternating point of view (Chris' POV and Maia's POV). We will 'swim' in their own thoughts. For example, the reader will know from the beginning that Chris is a transgender, and will feel sad for Maia that she doesn't know that.
"But I have to tell you something, Maia," I forced myself to continue. "And I don't know what will happen after I tell you. It might change everything between us, and that is terrifying to me beacuse I've never felt like this about anyone. I've never even dreamed that it was possible to feel the way I feel right now."
Aside from the issue, I love how Amber Smith writes the narration. It is well-executed. The author can bring a lovey dovey vibe through the words very smoothly. That reminds me of Rainbow Rowell's Eleanor and Park.

This book is great for you who like reading YA books, but are open-minded towards LGBT issue. Overall, I give this book 4 stars out of 5. Please do not forget to visit the Fantastic Flying Book Club's web to read the other's post about Something Like Gravity here. If you want to read this book too, I give you a chance to join the giveaway! Sadly, it is for U.S only. So, if you live in the U.S, please enter this to win a copy of Something Like Gravity:
a Rafflecopter giveaway
Mau Resign? Siapkan Hal Ini Dulu

Mau Resign? Siapkan Hal Ini Dulu


Banyak film yang meromantisasi resign, yaitu ketika tokoh utama memutuskan untuk berhenti bekerja, lalu berjalan keluar dari gedung tempatnya bekerja. Seketika itu juga, ia menghirup kebebasan. Hidupnya pun lantas menjadi lebih indah. Happy ending.

Oh, indahnya hidup...

Namun, kenyataan justru berbanding terbalik. Memang, satu atau dua hari setelah resign, rasanya bahagia. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, semua berubah. Setidaknya jika tidak ada penghasilan, satu bulan setelah resign bisa dipastikan cicilan dan tagihan mulai mengantri. Belum lagi kebutuhan harian harus dipenuhi. Bagi kaum hawa yang single, kebutuhan untuk merawat diri pun adalah hal wajib. Ditambah lagi, pemenuhan hasrat untuk hobi dan gaya hidup meningkat. Contohnya, jika ada film seru yang sedang diputar di bioskop. Tidak boleh deh sampai terlewat biar ada obrolan sama teman-teman. Ngobrolnya pun akan lebih keren kalau di cafe atau di warung kopi. Tapi, bagaimana itu bisa terjadi kalau uang yang kita punya setelah resign pas-pasan—hanya mengandalkan uang hasil pesangon resign? Akhirnya, penyesalan pun akan datang.

Resign adalah hal yang perlu dirancang dan direncanakan dengan baik. Jika keputusan resign dilakukan tergesa-gesa tanpa perencanaan yang matang, kejadian yang tadi saya ceritakan lah yang akan terjadi. Apalagi jika belum mendapat kerjaan pengganti. Ujung-ujungnya malah sengsara. Berbanding terbalik dengan doktrin dari film-film yang kita tonton.

Keputusan resign ini sebetulnya sudah ada pada mindset saya sejak di bangku SMA. Hobi saya membaca. Maka, passion saya pun ada di bidang literature. Saya berencana untuk menjadi penulis novel, editor, dan translator—sambil berbisnis dan mengelola toko pakaian. Pekerjaan saya yang sekarang jauh dari bidang saya. Saya pun berpikir, jika saya terus berada di tempat itu, saya akan terjebak dalam rat race—bangun tidur, berangkat kerja, mendapat gaji, bayar cicilan, belanja ini itu, tunggu gajian berikutnya. Begitu saja selama satu tahun, dua tahun, dan sampai sekarang masih begini-begini saja. Hal ini mirip seperti apa yang dijelaskan Robert T Kiyosaki mengenai konsep Cashflow Quadran.



Konsep ini membagi masyarakat menjadi empat kelompok. Empat kuadran. Begitulah istilah dalam buku Roberti T Kiyosaki. Berbeda kuadran, berbeda pula cara mereka mendapatkan uang. Kuadran pertama adalah pegawai (employee). Seperti saya sekarang. Bekerja pada orang lain atau perusahaan. Kuadran Kedua adalah para self employee. Mereka bekerja untuk dirinya sendiri dengan membuka usaha atau memiliki perusahaan sendiri. Kuadran ketiga adalah pemilik perusahaan. Mereka memiliki perusahaan, namun yang menjalankannya adalah orang lain yang ia rekrut. Kuadran keempat adalah investor—pemegang saham. Mereka tidak bekerja untuk uang, namun uanglah yang bekerja untuk mereka. Bisa dikatakan, inilah sumber passive income.

Dari keempat kuadran tersebut, saya mempertimbangkan akan ada di kuadran mana saya. Kuadran kedua, tidak mungkin. Karena saya tidak punya bakat berjualan barang. Kuadran tiga, apalagi. Saya bukan anak pejabat atau pengusaha. Berpikir memiliki perusahaan sendiri sepertinya masih jauh dan agak sulit diraih karena tidak ada modal besar. Kuadran empat, bisa saja. Tapi, saya tidak punya ilmunya. Ketika saya SMA dulu, belum ada seminar atau Youtube channel yang membahas finansial. Belum lagi ada mindset bahwa menjadi investor itu harus punya uang banyak untuk menanamkan saham. Jadi, satu-satunya pilihan saya adalah menjadi penghuni kuadran satu alias karyawan.

Bertahun-tahun saya bekerja pada perusahaan orang lain yang tidak sesuai passion saya. Mark Twain, salah satu penulis favorit saya yang terkenal dengan bukunya The Adventures of Tom Sawyer, mengatakan, “Find a job you enjoy doing, and you will never have to work a day in your life.” Ini betul sekali! Ketertarikan saya pada dunia kepenulisan dan literatur menjadi bahan bakar saya untuk  resign. Namun, saya perlu berhati-hati dalam hal ini. Ini harus direncanakan dengan matang dan dengan strategi. Di sinilah saya mengenal aplikasi Finansialku—sebuah aplikasi yang berfungsi mengelola keuangan, investasi, dan merencakan keuangan individu atau keluarga. Inilah cara mengatur keuangan cara saya dengan aplikasi Finansialku.


Dalam buku Make A Plan And Get Your Financial Dreams Come True karya Melvin Mumpuni—founder Finansialku—dijelaskan bahwa “mimpi yang tidak ditulis/diucapkan, hanyalah sebuah khayalan.” Kata-kata itu membuat saya tertegun. Karena itu, saya bertekad untuk mempraktikkan apa yang disarankan dalam buku tersebut.




Langkah pertama yang saya lakukan adalah mulai merapikan cash flow. Saya harus mencatat pemasukan dan pengeluaran setiap harinya guna melihat kemana saja uang saya pergi. Biasanya, saya memakai catatan tertulis di sebuah buku notes. Namun, ini kurang efektif karena buku catatan saya sering tertinggal di rumah, atau lupa mencatat pengeluaran. Solusinya adalah dengan menggunakan aplikasi Finansialku. Aplikasi ini praktis dan dapat diunduh di Play Store (untuk Android) dan www.aplikasi.finansialku.com (untuk iOS, karena aplikasi untuk iOS masih on development). Untuk bulan pertama, kita bisa menggunakannya secara gratis. Selanjutnya, dikenakan biaya. Hanya dengan 35.000/bulan atau 350.000/tahun, kalian bisa mencatat keuangan, investasi, dan bisa bebas konsultasi dengan para perencana keuangan Finansialku.


Mencatat keuangan ini saya lakukan setiap hari di tools 'Catatan Keuangan'. Namun, sebelum mencatat, saya harus mengisi 'Anggaran' terlebih dahulu, supaya tahu apa saja yang perlu dianggarkan di bulan ini. Tools 'Catatan Keuangan' diinput harian. Kita bisa memsukkan pengeluaran kita di tools tersebut dengan memencet tanda plus di bagian kanan bawah.

Saya pun menjadi lebih hemat dan bisa menabung lebih banyak. Jika ingin membeli sesuatu, saya akan selalu berpikir apakah ini kebutuhan atau keinginan. Saya mulai mengurangi jajan di luar, lebih memilih bekal atau memasak sendiri di rumah. Kalau ingin apa-apa, pinginnya bayar cash. Pantang pakai kartu kredit. Lebih kece bayar cash kan ketimbang ngutang pakai kartu kredit. Mungkin, ini efek psikologis dari mencatat keuangan.

Langkah kedua, melunasi hutang konsumtif. Hutang konsumtif memang terkadang membuat napas agak sesak. Cicilan mobil, kartu kredit, dsb. Apalagi jika kita mengeluarkan uang untuk membayar hutang yang jumlahnya 50% dari pendapatan kita. Ya, memang hutang konsumtif sifatnya menggerus pendapatan kita. Beda dengan hutang produktif yang bisa memberikan penghasilan. Setelah membaca banyak artikel di finansialku.com, saya pun membatasi hutang/cicilan maksimal 30% dari pendapatan. Tidak boleh dari itu. Dan saya berencana untuk segera melunasi hutang konsumtif secepat mungkin. Tentunya, dengan menggunakan aplikasi Finansialku dong.

Langkah ketiga, menyiapkan dana darurat. Di Finansialku, ada sebuah framework bernama piramida perencanaan keuangan.


Piramida ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu keamanan keuangan, kenyamanan keuangan, dan distribusi kekayaan. Inilah salah satu hal yang harus dipersiapkan sebelum memutuskan untuk resign.
Keamanan keuangan berarti kita dapat memenuhi keuangan jangka pendek (1-12 bulan). Dalam piramida, disimbolkan dengan dompet dan payung. Dompet berarti kita sudah memiliki dana cadangan/talangan yang jumlah idealnya 6-12 bulan pengeluaran kita (tergantung status pernikahan). Payung berarti kita memiliki asuransi kesehatan. Inilah yang harus kita persiapkan ketika berencana untuk resign.

Langkah selanjutnya adalah investasi. Warren Buffet adalah role model untuk saya. Saya tidak berbakat berbisnis/berjualan. Untungnya saya punya pasangan yang pintar berbisnis dan berjualan. Jadi, saya fokus untuk berinvestasi di reksadana. Saya sudah memiliki reksadana. Tentunya, kalian pun bisa dengan mudah memiliki Reksadana hanya dengan mengunduh aplikasi Finansialku.

Saat ini saya memang masih bekerja di perusahaan yang sama dan belum resign. Setelah mendapat pencerahan dari Finansialku, saya pun menjadi tidak tergesa-gesa untuk resign. Namun, saya tetap berniat untuk resign. Resign yang terencana. Selama sepuluh tahun ke depan, saya akan fokus membangun karir, memenuhi dana darurat, melunasi cicilan, dan berinvestasi, dengan tidak melupakan passion saya di dunia kepenulisan dan mimpi saya dalam meraih kebebasan finansial. Memang jalannya masih panjang, namun pengalaman yang akan saya dapat akan membawa saya pada kebebasan—seperti yang didapatkan tokoh-tokoh dalam film yang meromantisasi resign. Sepuluh tahun lagi, saya akan pensiun dini dan berjalan ke luar gedung perkantoran sambil berteriak, “Saya bebas!”
Visiting The Wolf's Lair

Visiting The Wolf's Lair

The biggest book sale in the world, Big Bad Wolf, made its way back once again this March in Indonesia! This time, it was held in Indonesian Convention Exhibition (ICE), Tangerang. For me, it was my fourth time to be in the event since 2016. Never missed one. This year, I went there again and got some amazing books to feed my needs to read.

Although the books that I bought are not as much as other bibliophiles, I am very grateful. It is because the books that I bought are all exciting. I checked the rating and the comments on Goodreads to make sure that I didn't waste my money for something that doesn't spark joy. Yes, I did the selection based on KonMari method. I don't want to be a book hoarder. Keeping books without reading it and let them lay there somewhere in the bookshelf makes me guilty. Also, Islam taught me not to collect things that I don't use etc, while there are many people who need it more than me. So, I make sure that I read all the books I bought.

And here are the books:



1. Exit, Pursued By A Bear by E.K. Johnston
2. Tales of Falling and Flying by Ben Loory
3. Forgive Me, Leonard Peacock by Matthew Quick
4. My Life with the Liars by Caela Carter
5. The Museum of Heartbreak by Meg Leder
6. Immaculate by Katelyn Dateweiler
7. The Last To Let Go by Amber Smith
8. The Darkest Corners by Kara Thomas

Mostly, the books are on my wishlist. I also have read some in the form of e-books. But I really like physical books than e-books. So I collected those amazing books.

Moreover, there are news that spreading on the social media that Big Bad Wolf book sale will be held in several cities in Indonesia (Usually only Tangerang and Surabaya). Bandung is on the list! It is scheduled on June 2019. But I was afraid if I have a high expectation and it turns out to be a hoax. But it is not! It has been confirmed on official Instagram @bbwbooks_id

Can't wait to visit the wolf's lair again! Wolf's lair = my playground. I plan to visit it everyday. So, let's meet there to share anything about books. :)

Did you go to Big Bad Wolf book sale this March? What did you buy? I really want to know it. Please share, because sharing is caring.

Pinjam Buku di Bookabuku.com, Yuk!

Pinjam Buku di Bookabuku.com, Yuk!

Sekarang sudah akhir bulan Oktober. Sebentar lagi, akhir tahun. Di negara empat musim, saat ini sedang musim gugur. Dan sebentar lagi musim dingin datang. Kalau di Indonesia, sekarang sudah masuk musim hujan. Bulan-bulan Oktober, November, dan Desember adalah bulan favorit saya karena itulah saatnya bergelung di sofa atau tempat tidur sambil membaca buku dengan ditemani secangkir teh, kopi, atau susu hangat.


Tapi, semua itu tak lengkap jika buku yang kita baca tidak begitu bisa membuat kita semangat untuk membuka lembaran demi lembaran. Atau jika semua buku di rak sudah habis 'dilahap' dan kita kebingungan membaca buku apa selanjutnya.

Kali ini, kalian tak usah khawatir. Setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Dan setiap masalah, pasti ada solusinya. Jika kalian mengalami hal di atas, cobalah untuk meminjam buku di Bookabuku! Apa itu Bookabuku?

Bookabuku adalah platform pinjam-meminjam buku online pertama di Indonesia. Konsep dari Bookabuku memudahkan pengguna untuk meminjam buku dengan pilihan beragam dari sesama pengguna. Bookabuku ini lahir karena rendahnya kultur literasi di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini menempatkan Indonesia pada peringkat dua terbawah. Menurut data UNESCO Secara keseluruhan hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang membaca. Permasalahan tersebut muncul dikarenakan harga buku berkualitas yang relatif mahal dan akses yang sulit. Apalagi, buku-buku impor. Untuk mengatasi kendala tersebut, Bookabuku hadir memberikan solusi dengan menciptakan platform pinjam-meminjam buku fisik secara online pertama di Indonesia.


Awalnya, pinjam meminjam di Bookabuku hanya untuk mereka yang tinggal di wilayah Jabodetabek saja. Namun sekarang, sudah bisa ke seluruh Indonesia! Area jangkauan utama 24 kota yang tersebar di 9 provinsi (Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, D.I.Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Bali). Bagi pelanggan yang lokasinya di luar jangkauan bookabuku.com, bisa mengirimkan buku melalui jasa pengiriman yang ada di daerah tersebut dan menerima penggantian ongkos kirim dari bookabuku.com maksimal sebesar Rp. 10.000,-.

Cara meminjamnya pun cukup mudah. Buku yang kamu pinjam akan dikirim ke alamatmu. GRATIS! Dan jika sudah selesai membacanya, kamu cukup tunggu kurir rekanan mengetuk pintu rumahmu untuk menjemput bukunya. Dan kamu tidak udah membayar apa-apa lagi. Kamu cukup bergelung santai saja di rumah. Hehe...


Untuk bisa meminjam buku di Bookabuku, kamu harus menjadi member terlebih dahulu dengan cara membuat akun di website Bookabuku.com. Dengan membayar seharga Rp. 69.000 sebulan, kamu bisa meminjam buku sepuasnya. Tidak usah membayar lagi. Dengan catatan, maksimal dua buku di tangan. Kamu bisa menukar buku tersebut dengan buku lain jika kamu sudah selesai membacanya. Menarik bukan?

Kalau tertarik untuk meminjam buku di Bookabuku, kalian bisa lho dapat diskon sebesar 20% dengan memakai kode referral 'mpur3969'. Dengan memakai kode referral ini ketika kamu mendaftar, harga Rp. 69.000 per bulan akan dipotong 20%. Hemat kan?

Pengalaman saya meminjam buku di Bookabuku.com sangat memuaskan! Sejak minggu lalu, saya sudah meminjam tiga buku. Dua buku untuk peminjaman pertama, lalu tukar satu buku dan ganti dengan buku lain karena sudah beres dibaca. Dengan menjadi member di Bookabuku.com, saya menjadi lebih sering membaca. Mungkin karena bisa pinjam sepuasnya dengan harga Rp. 69.000, saya tidak mau rugi. Saya harus memanfaatkan kesempatan ini dengan meminjam banyak buku dalam satu bulan. Hehe...

Oya, selain bisa meminjam, kamu juga bisa meminjamkan koleksi buku kamu. Daripada hanya teronggok di rak-mu yang berdebu itu, lebih baik bukunya bisa dimanfaatkan. Tentu saja, ada imbalannya. Kalau ada yang meminjam bukumu, kamu akan dapat imbalan Rp. 5000/buku untuk buku bahasa Indonesia, dan Rp.10.000/buku untuk buku impor. Asyik kan?

Kalau kamu, sudah jadi member Bookabuku? Kalau ya, bagi pengalaman kamu di kolom komentar ya. Kalau belum, ayo, segera meluncur ke bookabuku.com...

Copyright © 2014 A Walk To Wonderland , Blogger